Teacher, she has a girlfriend

ImageSalah satu kelas yang terjadwal untuk kumasuki setiap minggu selama internshipku selama 2 bulan adalah Kelas English For Hotel 1. Semua dari mereka mahasiswa Tourism tingkat dua dan kami terjadwal kuliah di Gedung baru sebelah kantorku di lantai 2.  Cukup sulit mencari ruangan mereka walaupun map juga kubawa serta. Beberapa materi perkenalan termasuk juga cara berkenalan menggunakan kosakata Bahasa Thai kupelajari sedikit di malamnya. Tapi bukan hanya mereka yang melongo, aku juga terdiam beberapa detik setelah menemukan kelas mereka dan menemukan banyak sekali kepala manusia di dalamnya. WOW! It’s a big class! Mereka juga memandangku dengan berbagai raut wajah yang sedikit bisa kubaca. Sambil perlahan menuju kursiku, kusapukan pandangan kearah mereka.

“Hello Class, Sawadheeka! I’m Perti Rosanda, Your English teacher for this English For Hotel 1 Class. Yin di ti dai ru jak! Nice to meet you”

“Where are you from, teacher?” salah satu dari mereka, ookhg! Seorang lelaki kemayu dengan suara cempreng yang dibuat-buat.

“ Guess!”
“ Malaysia?”

“NO”

“Singapore?

“NO”

Philipine ?

”NO!”

“I’m Indonesian” kali ini suaraku kubuat lebih keras
Mereka mulai membuat percakapan sendiri-sendiri dengan suara berisik yang menyebar

Telah kuketahui dari awal, aku bukan seorang guru professional yang telah menangani berbagai ragam students dengan kelakukan yang variatif juga. Tapi demi kelancaran semuanya, pembawaanku kubuat terlihat secerdas mungkin dan berwibawa seperti layaknya guru. Padahal nervousnya luar biasa! Apalagi menyadari usia kami hanya berbeda satu angka. Mereka kebanyakan lebih muda satu tahun dariku dan beberapa di usia yang sama bahkan lebih tua. Kuminta mereka untuk memperkenalkan diri satu-persatu lalu mulai kucium sepertinya aku sedang berada dalam masalah. Lebih dari 60 Mahasiswa dengan berbagai warna. Gadis-gadis cantik, gadis bermake up dan berbedak sekian lapis, yang biasa saja, gadis tomboy yang menggunakan rok , lelaki-lelaki sok preman, cuek, kemayu stadium 2 hingga empat , dan yang benar-benar menyerupai perempuan.  Do’aku saat itu, semoga wajah cemasku tidak tertangkap mata mereka.

Beberapa dari mereka setelah sekian menit kelas berlangsung, masih sibuk mengobrol dengan seru membentuk kerumunan di berbagai sudut. Suara ku yang kecil tidak mampu menjadikan mereka focus pada beberapa rule dan materi- materi yang akan mereka pelajari yang sedang kujelaskan. Microphone tidak berhasil bekerja dengan baik dan projector tidak bisa dinyalakan. Rasa frustasi dan penuh keterkejutan menyumbat kapasitas ide akhirnya. Sewaktu  rasa shok dan cemasku di ujung yang tidak bisa tertahan, kuakhiri kelas walaupun belum waktunya. Lalu melangkah selebar mungkin kembali ke kantor dan mengadukan masalah ini pada Adjan co-teacherku.

“Adjan, I’m sorry to inform you that I just had a big class, there are more than 60 students, No microphone, Projector didn’t work, could you please to consider and would like to give other options for me in handling this class?”

Erika, American Teacher yang saat itu sedang berada di ruangan yang sama langsung merespon “WHATT?? More than 60 students without microphone and projector! I can imagine how hard to handle it, especially for you as training teacher!”

Kusambut pernyataan prihatin Erika. “ Ya Erikaa, I don’t think I can solve it by myself. Please Adjan, could you please help me to dividing that class into two! I’m okay for a half of them.”

Adjan itu pun berpikir sejenak dan mengangguk sambil menatapku dibalik kacamatanya yang tebal

“ OK , Please ask to Dian, maybe she could help you to take half of them!”

Horeey! Hatiku mulai berwarna kembali!Thanks Thanks Thanks..

Tapi di minggu kedua aku masih mempertahankan mereka sambil menunggu Dian yang berpikir untuk menambah jam mengajarnya yang masih belum fix. Agak bahagia mengetahui jumlah mereka tidak berkurang yang berarti mereka cukup menyukaiku di pertemuan pertama. Rencana pembelajaran yang sudah kususun kali ini masih membahas tentang introduction. Kuminta mereka untuk mendeskripsikan satu orang teman di kelasnya dalam bentuk gambar, lalu stelah itu mereka harus mendeskripsikannya di depan kelas. Kelas terlihat begitu hidup dan mereka menyukainya.

Satu jam terakhir pelajaran saat tibanya mereka melakukan aktifitas “speaking” dengan mempertunjukkan gambar teman mereka yang dikreasikan sendiri. Kelas jadi gempita dan aku puas merasa skenario dengan visual ads itu berhasil mencuri antusiasme berlebih dari mereka.

“ Good morning teacher and my friend, This is my best friend xxx, She has short hair, she is tall and pretty, has flat nose and big eyes, and she has a girlfriend!”

Salah seorang mahasiswa dengan dandanan kemayu dan kutangkap bibirnya terpoles lip-gloss mempresentasikan gambar yang dibuatnya. Sesekali memang aku mengoreksi pronunciation ataupun beberapa kesalahan kecil di sela presentasi mereka.

“Sorry, do you mean, she has a boyfriend?” Reaksiku cepat memotong di sela presentasinya,
“ No, teacher.. she has a girlfriend!” sanggahnya kembali dengan manis

“ She?? Girlfriend??”
Setelah beberapa detik aku mulai menyadari sesuatu.
“oohh, ok-ok. Fine! “ keherananku kujawab sendiri setelah menyadari maksudnya. Berusaha tetap menampakkan mimik muka yang tidak aneh. Harus berusaha toleran! Anak perempuan itu punya pacar seorang perempuan juga, dan mereka menganggap itu biasa. Perasaan ku makin campur aduk :I

Advertisements

Author:

I just wanna share my experience and stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s