ISLAM DAN SONGKHLA

ImageAroma keislaman di Songkhla memang tidak pekat sebagaimana halnya di Indonesia. Namun diantara 9 provinsi di negara seribu pagoda ini, Songkhla merupakan salah satu dari empat provinsi Thailand bagian selatan yang memiliki populitas muslim cukup banyak. Pemandangan saat pertama kali mengintip Songkhla, sudah bisa terlihat banyak wanita berjilbab di berbagai areal. Kami bisa agak bernafas lega melihat beberapa toko yang bertuliskan huruf Arab atau memamerkan label halal dengan font yang besar, itu artinya tidak terlalu sulit mendapatkan makanan halal di Songkhla dibandingkan Bangkok, Pattaya, Chiang Mai, ataupun Pucket yang terkenal sebagai tujuan wisata utama turis dari berbagai negara, namun populitas muslim sangat sedikit.

Songkhla merupakan salah satu provinsi yang disebut-sebut dan dikenal sebagai rumah yang nyaman bagi kaum muslim Thailand diantara penduduk asli lain yang mayoritas beragama Budha, walaupun juga tidak sebanyak di Provinsi Yala, Pattani, dan Narathiwat. Orang thai lebih suka menyebut kaum muslim Thailand sebagai Siam. Aku juga tidak mengerti maksudnya, Apakah istilah itu berarti keturunan campuran dari melayu atau apalah. Tapi memang muslim disini lebih sering menggunakan bahasa melayu sesama mereka, itu terekam saat kami mengunjungi daerah sekitar masjid Banbon yang sekaligus juga sebagai satu-satunya masjid di Songkhla. Di sekitar masjid merupakan pemukiman khusus warga muslim melayu juga mayoritas pertokoan menjajakan makanan halal.

Teringat saat kebingungan di hari pertama mencari arah kiblat untuk sholat zhuhur. Aku pernah berinisiatif untuk menanyakan para tetangga di pintu ssebelah, walaupun mereka bukan muslim tapi setidaknya tahu mana arah timur. Pintu pertama kutemukan agak terbuka sedikit dan terdengar suara balita kecil yang sedang bicara, kuurungkan langkah bertanya , karena saat terlihat balita umur sekitar 3 tahun itu sedang bermain dengan anjingnya yang mengiba-ngibaskan ekor dan menjulurkan lidah duduk manis di atas sofa. Ohh! Anjing diperlakukan seperti manusia, diberikan baju cantik dan dipeluk begitu mesra. Lalu aku berbalik mencari tentangga lainnnya dipintu sebelah kanan. Kucoba ketuk walaupun ada poster berwarna merah cerah dengan ukiran huruf China. Tapi tetap kuberanikah berani bertanya. Lebih baik mencoba dibandingkan tidak sama sekali. Wanita paruh baya berparas ramah menyambutku dengan senyum lebar menanyakan dalan bahasa Thai yang mungkin artinya apa yang bisa dia bantu, atau ada apa. Langsung kuinterupsi memberitahunya dalam bahasa Inggris bahwa aku tidak mengerti bahasa Thai dan baru tiba di Thailand kemarin siang dari Indonesia. Dengan susah payah menggunakan Bahasa isyarat karena dia sendiri tidak terlalu mengerti bahasa Inggris kutanyakan arah sholat untuk muslim. Konyol memang! Dia tidak langsung mengatakan tidak tahu, tapi dia panggil seoarang lelaki brewokan yang mungkin suaminya. Alhamdulillah dia bisa berbahasa Inggris walapun lagi-lagi dengan logat yang bikin sakit kepala. Sesuai dugaan sebelumnya,  mereka tidak tahu. Kuhibur diri setidaknya walaupun belum dapat informasinya, setidaknya silaturahmi ke tetangga baru. :p

Kembali ke flat dan melaporkan pada Ibu Nanik bahwa aku tidak berhasil menemukan informasi tentang arah kiblat. Ibu menawariku untuk menggunakan kompas yang ternyata dibawa beliau serta atas saran pak Zainal yang juga biasa menggunakannya ketika dinas ke keluar negeri. Tapi kami yang tidak terlalu mengerti membacanya, akhirnya menemukan arah timur walaupun masih dilanda ketidakpastian juga.

Satu hal lainnya yang menjadi masalah adalah lupa membawa sajadah. Lebih tepatnya tidak menyadari jika sajadah akan menjadi langka disini. Jika di Indonesia, kita bisa saja meminjam sajadah pada tetangga sebelah yang biasanya setiap rumah punya lebih dari satu, tapi baru menanyakan arah kiblat saja, kami mendapat jawaban tidak tahuJ. Sempat kami berdua sama-sama berpikir beberapa menit untuk mencari alternative lain sebagai pengganti sajadah. Untungnya, aku membawa kain panjang bermotif yang sempat diselipkan ibu di koper.

Ketika ke Sunday Market, salah satu barang yang menjadi target untuk dibeli tentu saja sajadah, mengingat aku akan tinggal 2 bulan bahkan lebih disini. Tapi jangankan sajadah, busana muslimpun tidak terlihat. Ibu Nanik yang cerdas menganjurkanku untuk membeli sarung bantal yang ternyata modenya sangat tebal. Bentuk dan dasar bahannya lebih menyerupai sajadah walaupun dibaliknya ada resleting. Sarung bantal yang tebal dan lebih panjang berwarna pink dengan dasar beludru, berhasil kubawa pulang.

Image
we had nice lunch with moslem students of nurse college 🙂

Tinggal bersama dengan warga asli Thailand namun beragama muslim, membuat warga asli lainnya yang beragama Budha, menjadi sangat toleran. Di Office kami adjan Paypan yang terlebih dahulu sangat ramah mengenaliku pada satu-satunya Adjan yang beragama Islam di kantor kami. Namun beberapa adjan sedang ikut tour ke New Zealand. Beliau juga memanggil salah satu mahasiswanya yang beragama Islam ke kantor untuk diperkenalkan kepadaku. Hingga aku mengenal Lip dan dia membantu banyak. Bukan hanya itu saja, adjan Paypan juga mengantarkanku ke Masjid Banbon (itu pertama kalinya aku kesana) bersama Lip dan Ann. Lip mengantarkanku ke dalam masjid untuk melihat waktu sholat dan berkenalan dengan warga muslim yang bermukim di areal masjid. Setelah itu, Adjan Paypan juga membelikan nasi kuning ayam goreng montok dan es kelapa muda yang dijajakan di depan jalan Masjid. Dia memberitahuku  tempat untuk membeli baju dan peralalatan muslim juga areal-areal khusus yang banyak ditemukan makanan halal. Adjan Paypan juga meminta Lip untuk membantuku dan menyarankanku untuk mencatat nomor kontak Lip. Itu juga yang menjadi awal persahabatku dengan Ann, gadis Thai yang Bahasa Inggrisnya sangat bagus dan tentu saja teramat baik hati. Kesan pertama yang membuatmu menjadi lebih nyaman dan kecemasanku menjadi redam. Thanks for your kindness, adjan J I love you, jub jub

Hari-hari awal di kantor, aku menanyakan praying room pada Ajan En yang beragama Budha. Dengan sigap dia menanyakan pada yang adjan yang lain, tapi mereka sempat berpikir lama sebelum mengatakan tidak tahu. Akhirnya aku diberikan ruang khusus di ruang kepala jurusan yang sedang ke New Zealand, Adjan En menawarkanku untuk mempergunakan ruangan itu untuk sementara waktu. Begitu sangat berasa nikmatnya ibadah disini, dilain sisi  kenyamanan yang biasa didapatkan ditanah air.

Walaupun tidak banyak, tapi cukup mudah menemukan mahasiswa berjilbab di kampus techno, mulai dari jilbab yang teramat tipis yang ujung rambutnya menjuntai sedikit dibalik kain, hingga yang berjilbab rapi dan berwajah cerah. Mereka mengucapkan salam saat kami bertemu, bahkan pernah satu kali kutemui mereka menyalami dan menanyakan namaku. Beberapa lainnya ada juga yang menggunakan jilbab namun menggunakan baju berlengan pendek. Yahh, seperti itu keberagaman manusia yang biasa ditemui dinegara manapun.

Namun, diantara 4 kelas yang rutin kumasuki setiap hari, tidak ada satupun mahasiswa yang menggunakan jilbab. Ketika perkenalan di awal pertemuan,beberapa dari mereka yang memperkenalkan diri sebagai muslim ketika ditanya agamanya, namun mereka tidak memperlihatkan tampilan sebagaimana layaknya seorang muslim. Bahkan ada seorang mahasiswa muslim di kelas English for tourism yang sehari-hari menggunakan rok mini  dan berdandan ala selebritis seperti teman-teman wanitanya kebanyakan. Tidak semua muslim disini mengikuti agamanya dengan baik kok, banyak juga dari mereka yang terpengaruh teman-temannya remaja Thai yang kebanyakan hedonis dan bergaya hidup bebas sehingga tidak terdeteksi dengan mudah kemusliman mereka. Tapi bagaimanapun kesanku tetap bernada “Sedikit namun solid”.

Masih tentang mahasiswa muslim, dikarenakan mungkin memang Adjan mereka yang muslim sangat langka, mereka terlihat surprise melihatku ke kelas dan menggunakan jilbab. Di awal pertemuan mereka mengira aku Malaysian atau Adjan baru yang berkewarganegaraan Thai, mungkin karena wajahku lebih menyerupai orang Thai dibandingkan orang Indonesia. Banyak orang Thai yang berkomentar begitu sewaktu melihatku. Salah seorang bilang jika aku bisa fasih berbahasa Thai, maka tidak akan ada yang menyangka aku orang Indonesia,hehe. Mahasiswa muslim di 4 kelas yang kumasuki, bisa hitung dengan jari, Tapi mereka memperlakukanku dengan sangat berlebih walaupun keterbatasan bahasa sempat menjadi masalah.

Sekitar 2 minggu setelah kami disana, barulah para teachers di Rajamangala kembali dari New Zealand. Itu berarti juga aku bisa langsung bertemu adjan yang satu-satunya muslim di Liberal arts yang selama ini hanya kuketahui namanya. Ajan boonyarit atau nick namenya Adjan Fa ( Memang biasanya orang Thai punya nama yang rumit, tapi setiap mereka punya nama panggilan yang jauh berbeda dibandingkan nama asli). Adjan Fa memberitahuku tentang Moslem student club di kampus techno dan mengantarkan langsung ke mushola yang biasanya students muslim kesana untuk sholat berjamaah. Kutemui mushola berukuran kecil terletak di sudut bangunan. Inilah mushola satu-satunya di Rajamangala. Biasanya di UNIB memaang lazim ukuran mushola yang sesempit ini, tetapi biasanya tersedia di setiap gedung. Tapi ini, mushola satu-satuunya yang ukuran lebarnya tidak lebih dari 5 meter. Di bagian areal sholat putrinya hanya memuat sekitar 6 orang. Sementara di provinsi Songkhla hanya ada 2 masjid, satunya adalah Banbon dan lainnya di Hatyai yang bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Songkhla. Masjid yang juga merupakan kebanggaan warga muslim di Songkhla, berarsitektur indah dengan luas yang berhektar. Setiap waktu sholat tiba, tergaung suara penyeru adzan yang membelah langit Songkhla diantara para patung-patung yang berada di setiap sudut kota, termasuk juga di hampir setiap rumah penduduk.

#Be proud to your identity! You are never alone, Allah be there :)\

Advertisements

Author:

I just wanna share my experience and stories

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s